Saya hanya ingat apa yang terjadi di tahun 1960-an ketika kami sekeluarga masih mengkonsumsi nasi tiwul yang terbuat dari gaplek (ubi kayu yang dikeringkan). Waktu itu beberapa tetangga kami ada yang menderita sakit beri-beri yang konon disebabkan oleh kekurangan vitamin B1. Sebenarnya keluarga kami masih beruntung karena nasi tiwul yang kami konsumsi masih ada campuran beras walaupun perbandingannya hanya sepersekian dibanding dengan tiwulnya. Namun demikian karena beras yang dicampurkan tidak digiling putih sehingga kandungan bekatul pada butir-butir beras itu masih ada meskipun hanya sedikit, dan nyatanya kami sekeluarga tidak ada yang terkena penyakit beri-beri beri, dan kami pun bersyukur.
Waktu itu orang tua saya memiliki sawah lumayan luas dan menu makan kami tidak setiap hari tiwul, akan tetapi ada juga selingan ful nasi beras. Untuk pemenuhan gizi dan vitamin orang tua saya sering membuat jenang/bubur bekatul sebagai makanan tambahan yang bikin awet kenyang. Meskipun pada waktu itu saya tidak pernah mendapatkan penjelasan dari siapapun bahwa bekatul itu mempunyai nilai bizi dan vitamin yang baik untuk kesehatan, kami mengkonsumsi bekatul bukan karena masalah kesehatan, akan tetapi lebih kepada untuk pemenuhan kebutuhan makan.
Generasi anak-anak saya yang lahir di tahun 1980-an ketika saya perlihatkan bekatul rupanya banyak timbul pertanyaan, dibuat dari apalah, untuk apalah seperti apa rasanya dan lain-lain. Dan ketika saya ceritakan tentang katul itu maka muncul pertanyaan lagi, kan bekatul itu buat pakan ayam to? ya karena manusia lupa bahwa pada bekatul itu banyak terkandung gizi dan vitamin, masalahnya kalau bekatul ini tidak dilepas dari butir padi maka penampilan berasnya tidak putih dan menarik, dan lagi rasanya tidak menarik juga.
Untuk menambah pengetahuan disisni sedikit saya ceritakan tentang bekatul, jaman dahulu untuk mengupas gabah menjadi beras dilakukan dengan cara menumbuk di lesung yang alat tumbuknya disebut alu, dari hasil tumbukan itu akan dihasilkan beras pecah kulit yang istilah Jawanya disebut dengan beras wuluh. Untuk menjadikan beras wuluh ini menjadi beras putih makan dilakukanlah menyosohan di lumpang. Tentu saja karena serba manual hasil sosohan inipun tidak seputih beras slep seperti sekarang.
Beras sosohan ini walaupun tampak lebih putih dibanding dengan beras wuluh tentu saja masih banyak bekatul yang melekat pada butir-butir beras itu sehingga ketika dimasak menjadi nasi kandungan vitaminnya masih ada tidak seperti beras slep di era sekarang ini sudah bersih tidak ada bekatulnya sama sekali sehingga kehilangan vitamin dan gizinya.
Bekaatul adalah kupasan kulit ari beras yang banyak mengandung vitamin B1, B2, B3, B5, B6 dan B15 dan juga karbohidrat, protein, mineral dan lemak. jadi beras putih yang diproses dengan mesin slep tentu vitamin dan lain-lain tersebut akan terbuang. Para operator slep hanya memanfaatkan untuk disalurkan kepada pembeli yang dipergunakan sebagai bahan baku pakan ternak.
Tapi tentu tidak masalah, karena kesadaran memang seringkali muncul di belakang waktu, dan sekarang ini sudah banyak bahan makanan sereal yang bahan bakunya menggunakan bekatul, dan tentunya ini bukan barang inferior karena seharusnya dikonsumsi bersama beras yang ditanak menjadi nasi. Bekatul kini menjadi komoditas yang naik klas karena banyak dipajang di supermarket dalam bentuk makanan instan yang diolah dalam berbagai bentuk makanan olahan untuk perawatan kesehatan.
Demikian sekilas info menengok darimana asal-muasalnya bekatul.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar